Level mister

Posted on

Level mister

Banyak dari teman-teman saya mengatakan bahwa saya itu mirip dengan Ustadz Abdul Somad. Dari segi perawakannya, kurusnya, mukanya dan sebagainya. Dulu ada yang bilang saya itu mirip dengan Dede pelawak yang sering main di salah satu televisi swasta bersama sule dan andre.

Senyuman manis yang saya miliki

Muka saya itu sangatlah pasaran atau tergolong limited edition?? Ah semua punya pendapat masing mengenai wajah yang sederhana ini. Secara pribadi saya itu mirip dengan choky sitohang bahkan dalam ke pede an saya, choky sitohang itu mirip saya. Namanya juga ngayal.

Saya mengajar di salah satu madrasah di daerah jakarta timur. Banyak yang memanggil saya ustadz dan ada juga yang memanggil saya mister. Kalo boleh request, saya lebih nyaman dipamggil mister.

Mister itu awalnya saya dipaksakan mengajar bidang study bahasa inggris, yang sama sekali tidak linier dengan ijazah yang saya punya. Dengan bekal kursus bahasa inggris di kampung inggris, Pare selama 6 bulan saya pun memberanikan diri untuk menerima mengajar bahasa inggris. Karena bahasa inggris lah saya mulai dipanggil dengan mister. Zie merupakan nama pendek dari nama fauzi. Jadilah mister zie. Diakhiri dengan ‘e’ menunjukkan bahwa saya itu masih alay.

Setelah saya dipanggil mister, beberapa bulan berikutnya ada yang mulai memanggil ustadz, karena saya juga mengajarkan ngaji. Jadi kalo digabungin bisa enak didengar ustadz mister zie atau mister ustadz zie.

Dulu, sewaktu saya menimba ilmu, pada bukti kalo saya ngaji itu saya tuliskan al-ustadz, guru saya langsung bilang, saya ini belum jadi ustadz karena ngajinya belum lulus. Dari sini, saya mengerti akan gelar ustadz itu bagi yang ngajinya sudah lulus tingkat Aliyah. Dalam hati, saya ibtidaiyah saja ga lulus, kok hebat banget saya dipanggil ustadz. Rasanya ingin sekali menolak panggilan tersebut.

Pada fenomena belakangan ini, banyak ustadz-ustadz millenial yang muncul dilayar kaca dengan sombongnya dan lantangnya mengatakan bahwa ulama yang dekat dengan pemerintah disebut dengan ulama su’, ulama akhir zaman dan sebagainya. Saya selalu mengamati ustadz-ustadz tersebut ternyata memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang sebelumnya jadi penyanyi, artis, motivator, public speaker, komedian, politikus dan lain sebagainya. Dengan dalih hijrah, serta berani dan lantang menyuarakan ketidakadilan dan kebobrokan rezim saat ini, gelar ustadz pun mereka dapatkan. Rasanya ingin sekali berdiskusi dengan mereka dalam menyikapi perbedaan.

Oleh karena itu, saya yang belum bisa berbicara lantang mengenai keadaan bangsa ini, apalagi untuk membenci serta berkata yang tak pantas pada pimpinan bangsa, rasanya menolak sekali untuk dipanggil ustadz. Saya masih level mister yang butuh akan perdamaian kemanusiaan, tanpa ada permusuhan serta menjaga persatuan sesama makhluk Tuhan.

Level mister yang masih tahap belajar mengoreksi diri sendiri

Level mister mungkin akan lebih cocok untuk saya, karena jauh dari aroma agama. Mister belum tentu master, contohnya saya, saya belum sampai pada kelas master karena saya masih tahap mister. Mister yang selalu mengoreksi kesalahan diri sendiri dan tak akan sanggup mengoreksi kesalahan orang lain.

Selfi tanpa menyakiti

Mister itu familiar bagi kalangan para pelajar masa kini. Dan mister pun bisa selfie sesuka hati tanpa menyakiti. Selfie kepada anak didik yang rasanya seperti keponakan sendiri. Itulah tahapan saya masih level mister bukan level ustadz apalagi level master.

Bekasi, 05/10/2019

misterzie
Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *