Banjir, menyalahkan siapa?

Posted on

Banjir, menyalahkan siapa?

Dua bulan di awal tahun 2020, banjir hadir sebanyak kurang lebih 6 kali. Para netizen meramaikan keunikan banjir yang terjadi di wilayahnya, seperti ada video yang beredar bahwa akibat banjir karena ada masyarakat yang lupa menutup kran, ada pula video banjir dengan berorasi seperti orasinya sang pimpinan disaat masa kampanye dan masih banyak lagi keunikan video yang viral di beberapa media sosial belakangan ini. 

Orang bijak akan selalu berkata, tak akan ada api tanpa asap. Menurut pribadi, banjir yang terjadi di beberapa wilayah khususnya daerah yang berdekatan dengan ibu kota disebabkan oleh drainase yang tak mencukupi, ruang hijau yang makin hari makin terkikis habis, aliran sungai yang makin dangkal dan butuh pelebaran, serta kesadaran masyarakat dalam membuang sampah yang masih sembarangan. 

Saya akan sedikit menguliti satu persatu dari sebab terjadinya banjir di wilayah yang berdekatan dengan ibu kota. Pertama, drainase yang tak mencukupi. Drainase atau pengatusan, diwilayah tersebut sedikit tak nampak bentuknya karena tertutup dengan trotoar yang rapi nan indah sekali. Seandainya lewat goresan yang tak bermanfaat ini pemerintah setempat membaca, maka saya akan sedikit memberikan solusi berupa bisa ga dibawah trotoar yang luas di buatkan drainase yang lebih dalam, dan lebih lebar. Kalo bisa akan lebih indah lagi disaat hujan lokal terjadi, maka banjir pun akan terlewati, namun seandainya tidak bisa yaa tolong cari solusi kepada ahlinya, karena saya hanya seorang bodoh yang berangan-angan ingin pintar melalui goresan yang kurang manfaat ini. 

Kedua, Ruang hijau yang makin hari makin terkikis habis. Sebelum terwujudnya trotoar yang indah dan cantik, saya masih seger melihat bunga dan tanaman tumbuh di pinggir-pinggir jalan ibukota negara. Saat ini hampir semuanya terkikis untuk pembuatan hak pejalan kaki. Semuanya tak ada yang salah dalam memgambil keputusan, karena mereka pasti memiliki alasan yang kuat untuk suatu keindahan ibukota. Dibangunnya trotoar untuk hak pejalan kaki merupakan inisiatif yang bagus namun sangat disayangkan bila hak pejalan kaki dialihfungsikan menjadi hak pedagang kaki lima dengan dasar mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga. Semoga masalah klasikal ini, para pemangku kekuasaan daerah mampu memberikan solusi terbaik untuk warganya. 

Ketiga, aliran air yang makin dangkal dan butuh pelebaran. Melihat fenomena sungai yang makin tebal akan pasir yang mengendap, membuat sungai tersebut tidak lagi menampung volume air yang banyak. Normalisasi sungai atau naturalisasi sungai akhir-akhir ini tidak lagi menjadi prioritas utama. Padahal, program normalisasi sungai banyak akan mengurangi resiko terjadinya banjir. Sempat terlihat, masih banyak bangunan-bangunan semi permanent berdiri kokoh di atas aliran air sungai. Berpikir secara sehat, mereka sangat nyaman berada ditempat yang sangat berbahaya dan tidak manusiawi. Mereka pada dasarnya ingin sekali diperhatikan oleh para penguasa daerah untuk dicukupi segala kebutuhannya, saya selalu bersangka baik, mungkin para penguasa daerah sudah mencukupi segala kebutuhannya hanya mereka tidak merasakannya. Sekali lagi, lewat tulisan yang tidak berfaidah ini, ingin memberikan solusi dasar, coba diajak bicara para pemilik rumah yang berada dipinggiran sungai, karena mereka memiliki keinginan bisa tinggal ditempat yang nyaman, aman dan gratis. Setelah bicara dengan mereka, berikan solusi bahwa nanti akan ada pelebaran sungai dan pemilik rumah ditempatkan dirumah susun yang telah disediakan oleh pemerintah daerah. Namun seandainya masih berat ajak lah mereka ngopi dan cukupi kebutuhan mereka. Ini hanya solusi dari saya, jika dipake alhamdulillah jika tidak juga tidak apa-apa, namanya juga penulis amatir. 

Keempat, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah sembarangan. Pada dasarnya, terdapat komponen penting dalam suatu wilayah dan tidak bisa dikalahkan, yaitu komponen masyarakat. Masih ditemukan, masyarakat dalam membuat kotoran atau sampah ditempat yang salah karean bukan pada tempatnya. Apalagi masyarakat yang tinggal diatas aliran sungai, sudah bisa diprediksi membuang sampah yang cepat dan mudah hanya di sungai. Semuanya butuh kesadaran yang tinggi dari tiap-tiap masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi membuangnya pada aliran sungai. Menunggu kesadaran yang tinggi ini akan membutuhkan waktu cepat disaat pada diri kita yang memulainya. 

Dari keempat penyebab tersebut, kini saatnya warga yang terdampak banjir, mari mulai saat ini untuk bekerjasama dalam menjaga lingkungan, menjaga kelestarian alam, menjaga keindahan tata kota serta menjaga kebersihan sungai yang ada. Pemerintah provinsi DKI tidak akan sanggup menyelesaikan permasalahan ini sendirian, pemprov akan sangat mudah menyelesaikan permasalahan ini dengan adanya kerjasama antara warga dan para pemangku kebijakan. 

Tidak perlu mencari siapa yang salah dalam musibah banjir, mari bersama-sama mengintropeksi diri untuk lebih konkrit dalam membangun ibu kota yang sama-sama kita cintai. Jabatan gubernur hanya berlaku lima tahunan, entah nanti siapa yang akan meneruskan, tergantung loby para partai politik yang melakukan. Masyarakat hanya berharap, musibah banjir tidak terjadi lagi, toleransi dalam pergaulan ditingkatkan, isu-isu SARA ditiadakan. Pada dasarnya, kami masyarakat yang MERDEKA

zie

Jamiyah possiyah. 

misterzie
Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *