Di tanah Tegal Glagah, Bulakamba, tepat ketika genderang kemerdekaan Indonesia mulai bertalu pada 5 Juni 1945, lahirlah seorang putra bernama Dimyati Rois. Beliau adalah permata kelima dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah, sepasang jiwa bersahaja yang memadukan keringat petani dengan kekhusyukan santri. Di bawah asuhan kasih mereka, Dimyati muda ditempa dalam tungku ibadah yang tak pernah padam, tumbuh di antara riuh doa saudara-saudaranya.
Gairah spiritual membimbing langkahnya menuju Pondok Pesantren APIK Kaliwungu. Di sana, Abah Dim bukan sekadar pencari ilmu, melainkan seorang musafir batin. Ketika dunia terlelap dalam selimut malam, beliau justru terjaga. Saban tengah malam, kaki-kaki kokohnya menapaki jalan sunyi menuju pelataran makam para wali di Jabal Nur Kaliwungu Selatan, Kendal
Antara pukul dua belas malam hingga fajar hampir menyapa, langit Jabal Nur menjadi saksi bisu atas zikir-zikir panjang dan laku riyadhah yang beliau jalani. Bagi Abah Dim, hening adalah bahasa terbaik untuk bercakap dengan Sang Pencipta.
Suatu malam yang pekat, kepulangan beliau dari makam sesepuh dihadang oleh sebuah ujian yang tak kasat mata. Di depan gerbang makam Sunan Katong, bayang-bayang kelam merayap, gerombolan jin muncul menantang, menguji keteguhan iman sang santri.
Tiada pilihan bagi sang penempuh jalan cahaya selain meladeni tantangan itu. Bukan karena nafsu amarah, melainkan demi martabat kebenaran agar jalan pulang tak terhalang. Pertempuran batin dan fisik terjadi di dimensi yang sulit dinalar. Gerombolan itu pun tunduk, namun raga Abah Dim yang ringkih akhirnya rebah, pingsan dalam dekapan bumi yang lembap.
Menjelang subuh, jalan setapak itu mulai dilalui para pedagang dari Protomulyo yang hendak mengadu nasib di Pasar Kaliwungu. Mereka terperangah menemukan sosok santri tergeletak tak berdaya. Namun, keajaiban pun dimulai.
Meski raga Abah Dim tampak biasa, tak ada satu pun
tangan manusia yang mampu mengangkatnya. Seolah-olah bumi enggan melepaskan sosok yang dicintainya, atau mungkin bobot spiritual beliau saat itu melampaui berat gunung-ganang. Beramai-ramai para pedagang mencoba, namun beliau tetap tak bergeming.
Kegemparan itu berakhir ketika para Kyai pengasuh Ponpes APIK turun tangan. Di depan makam Sunan Katong yang legendaris, doa-doa dilangitkan. Tak lama kemudian, Abah Dim tersadar dari pingsannya, lalu dengan takzim mencium tangan gurunya sembari memohon maaf atas keriuhan yang terjadi.
Pada saat itulah, seorang Kyai sepuh menatap tajam ke dalam binar mata Abah Dim dan berbisik dalam firasat: “Anak ini, kelak akan menjadi orang besar.”
Waktu pun membuktikan kebenaran kalam tersebut. Sang santri tirakat itu semasa hidupnya dikenal sebagai ulama besar dan Mustasyar PBNU, mercusuar ilmu dari Kaliwungu kelahiran Brebes yang cahayanya menembus batas-batas cakrawala nusantara.
sumber : facebook pesona ketanggungan
Di balik baju koko sederhana dan senyum tenangnya, Kiai Subhan Makmun menyimpan sebuah teladan tentang apa artinya “mengabdi tanpa harap”.
Kiai Subhan Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes yang juga salah satu Rais Syuriyah PBNU mengisahkan pengalaman menariknya saat berdakwah.
Sebuah kisah yang terjadi jauh di tahun 1994, saat dunia dakwah belum semewah sekarang. Beliau pernah diundang untuk mengisi sebuah acara khataman kitab Ihya ‘Ulumuddin di sebuah pesantren di Kabupaten Tegal. Saat itu beliau masih harus diantar jemput oleh panitia karena tak memiliki kendaraan pribadi
Bayangkan seorang ulama, setelah mencurahkan seluruh energi dan ilmunya dalam sebuah mauidhah di pengajian besar, harus pulang tanpa sepeser pun uang di saku. Saat itu, Kiai Subhan diantar pulang oleh panitia. Beliau meminta diantarkan ke kediaman mertuanya saja, yang kebetulan dekat dengan lokasi pengajian.
Namun mereka pergi begitu saja tanpa memberikan ‘bisyarah’ atau amplop yang biasanya menjadi tradisi penghormatan bagi mubaligh.
Beliau tidak mengeluh. Tidak juga menagih. Bahkan, saat tiba di rumah mertuanya, beliau dengan rendah hati harus meminta sedikit uang ongkos untuk sekadar bisa pulang ke pesantrennya di Brebes.
”Lho, apa tadi tidak dikasih amplop? Kok mau pulang saja minta sama mertua?” tanya sang mertua sambil tertawa kecil.
Kiai Subhan hanya menjawab singkat dengan ketenangan yang luar biasa: “Mboten Bah”
Setahun kemudian, ujian itu datang lagi. Dan lagi. Di tempat yang sama, untuk acara yang berbeda, Kiai Subhan kembali hadir. Beliau datang dengan kendaraan sendiri, membawa bekal seadanya. Usai acara, pemandangan yang sama terulang: tuan rumah melepasnya pulang dengan tangan hampa.
Tiga kali beliau diundang, tiga kali pula beliau diperlakukan seolah jerih payahnya tak bernilai.
Namun, di hati Kiai Subhan, dakwah bukanlah transaksi. Beliau tetap hadir dengan semangat yang sama, memberikan ilmu yang sama murninya.
Hingga suatu hari, sang pengundang datang ke kediaman beliau. Sebuah pengakuan jujur terucap yang menggetarkan hati:
”Mohon maaf Kiai, tiga kali saya mengundang, sengaja tidak saya beri amplop. Bukan karena saya lupa, tapi saya ingin menguji: apakah Pak Kiai benar-benar ikhlas atau tidak.”
Kiai Subhan hanya tersenyum kecil. Ujian itu lulus bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Hasilnya? Sang penguji justru menyerahkan hal yang jauh lebih berharga dari sekadar uang: anak-anaknya sendiri, untuk dididik di bawah asuhan Kiai Subhan. Beliau mendapatkan kepercayaan, sebuah mata uang yang tak akan pernah habis.
Kisah ini diceritakan KH Subhan Makmun pada kajian kitab Tafsir Al-Munir di Islamic Center Brebes. Dalam kajian rutin yang sebagian besar jamaahnya adalah para kiai dan ustadz itu Kiai Subhan mengajarkan, “Kalau ingin ilmu yang diajarkan benar-benar meresap ke hati para santri, maka ustadz harus benar-benar ikhlas mengajar ngaji. Jangan pernah berharap balasan.
Berpeganglah pada satu ayat “in ajriya illâ ‘alallâh”
Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya telantar. Dia akan membuka pintu rezeki dari jalan-jalan yang tak pernah terlintas dalam logika manusia.
sumber : facebook pesona ketanggungan