“Lalu Lintas”: Antara Yang Berlalu dan Yang Melintas

bagikan
Facebook
LinkedIn
X
WhatsApp
Pinterest

Kata lalu lintas terdengar teknis, seolah sekadar soal jalan dan kendaraan. Tapi bila direnungi, ia memuat isyarat kehidupan. Lalu adalah yang telah lewat: masa lalu, kenangan, kesalahan, atau cinta yang pernah singgah. Lintas adalah yang menyilang: harapan baru, ujian, atau mungkin cinta tak terduga. Hidup adalah ruang di antara keduanya—antara yang tak bisa kembali dan yang belum tentu tinggal.

Kita semua pengendara di jalan yang tak selalu lurus. Kadang harus menepi, kadang memberi jalan bagi yang lain. Lalu lintas di negeri ini semrawut—apakah hidup kita pun demikian?

Lalu lintas bukan hanya arah, tapi juga aturan. Ada rambu yang tak boleh dilanggar, sebagaimana ada batas yang tak pantas diterobos. Ada etika menghormati di simpang jalan, sebagaimana dalam hidup kita harus belajar menahan diri, menepi, mengalah, dan memberi ruang bagi sesama.

Seorang filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard pernah mengatakan:

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”

Hidup hanya bisa dipahami ke belakang, tapi harus dijalani ke depan.

Itulah “lalu lintas” hidup—kita sering baru mengerti arti sesuatu setelah ia berlalu, padahal kita harus tetap melintas ke masa depan, entah siap atau tidak.

Sementara Jalaluddin Rumi berkata:

“Don’t grieve. Anything you lose comes round in another form.”

Jangan bersedih. Apa pun yang kau kehilangan akan kembali dalam bentuk yang lain.

Dalam lalu lintas takdir, tak semua yang pergi itu hilang. Entah itu, kesempatan, rejeki, atau perasaan. Ada yang hanya berbelok sebentar, lalu kembali saat waktunya tepat dalam bentuk yang lebih baik.

Hidup seperti jalanan: Kita kadang terjebak macet dalam penyesalan, kadang tersesat di simpang pilihan. Tapi yang penting bukan siapa tercepat sampai, melainkan siapa yang paling bijak memahami arah, rambu, dan siapa yang berjalan bersama.

Dan ketika hidupku nyaris ingin berlalu,
tiba-tiba dirimu tak sekadar melintas di hadapanku, tapi menepi, lalu menetap,
dan menemani perjalanan dengan rute baru ini. This is our journey, my sweetie pancake ❤️‍🔥

Tabik,

Nadirsyah Hosen
sumber : https://www.instagram.com/p/DL8iavVzzh1/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *