Sang Cahaya dari Tegal Glagah: Fragmen Spiritual Abah Dim

bagikan
Facebook
LinkedIn
X
WhatsApp
Pinterest

Di tanah Tegal Glagah, Bulakamba, tepat ketika genderang kemerdekaan Indonesia mulai bertalu pada 5 Juni 1945, lahirlah seorang putra bernama Dimyati Rois. Beliau adalah permata kelima dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah, sepasang jiwa bersahaja yang memadukan keringat petani dengan kekhusyukan santri. Di bawah asuhan kasih mereka, Dimyati muda ditempa dalam tungku ibadah yang tak pernah padam, tumbuh di antara riuh doa saudara-saudaranya.

​Gairah spiritual membimbing langkahnya menuju Pondok Pesantren APIK Kaliwungu. Di sana, Abah Dim bukan sekadar pencari ilmu, melainkan seorang musafir batin. Ketika dunia terlelap dalam selimut malam, beliau justru terjaga. Saban tengah malam, kaki-kaki kokohnya menapaki jalan sunyi menuju pelataran makam para wali di Jabal Nur Kaliwungu Selatan, Kendal

​Antara pukul dua belas malam hingga fajar hampir menyapa, langit Jabal Nur menjadi saksi bisu atas zikir-zikir panjang dan laku riyadhah yang beliau jalani. Bagi Abah Dim, hening adalah bahasa terbaik untuk bercakap dengan Sang Pencipta.

​Suatu malam yang pekat, kepulangan beliau dari makam sesepuh dihadang oleh sebuah ujian yang tak kasat mata. Di depan gerbang makam Sunan Katong, bayang-bayang kelam merayap, gerombolan jin muncul menantang, menguji keteguhan iman sang santri.

​Tiada pilihan bagi sang penempuh jalan cahaya selain meladeni tantangan itu. Bukan karena nafsu amarah, melainkan demi martabat kebenaran agar jalan pulang tak terhalang. Pertempuran batin dan fisik terjadi di dimensi yang sulit dinalar. Gerombolan itu pun tunduk, namun raga Abah Dim yang ringkih akhirnya rebah, pingsan dalam dekapan bumi yang lembap.

​Menjelang subuh, jalan setapak itu mulai dilalui para pedagang dari Protomulyo yang hendak mengadu nasib di Pasar Kaliwungu. Mereka terperangah menemukan sosok santri tergeletak tak berdaya. Namun, keajaiban pun dimulai.

​Meski raga Abah Dim tampak biasa, tak ada satu pun
tangan manusia yang mampu mengangkatnya. Seolah-olah bumi enggan melepaskan sosok yang dicintainya, atau mungkin bobot spiritual beliau saat itu melampaui berat gunung-ganang. Beramai-ramai para pedagang mencoba, namun beliau tetap tak bergeming.

​Kegemparan itu berakhir ketika para Kyai pengasuh Ponpes APIK turun tangan. Di depan makam Sunan Katong yang legendaris, doa-doa dilangitkan. Tak lama kemudian, Abah Dim tersadar dari pingsannya, lalu dengan takzim mencium tangan gurunya sembari memohon maaf atas keriuhan yang terjadi.

​Pada saat itulah, seorang Kyai sepuh menatap tajam ke dalam binar mata Abah Dim dan berbisik dalam firasat: “Anak ini, kelak akan menjadi orang besar.”

​Waktu pun membuktikan kebenaran kalam tersebut. Sang santri tirakat itu semasa hidupnya dikenal sebagai ulama besar dan Mustasyar PBNU, mercusuar ilmu dari Kaliwungu kelahiran Brebes yang cahayanya menembus batas-batas cakrawala nusantara.

 

sumber : facebook pesona ketanggungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *